Sabtu, 12 April 2008

Apa itu SBI ?

Apaan sich SBI ? Saudara kandungnya SBY ?

Begini...


Depdiknas sudah mencanangkan program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang proyek rintisannya menyertakan ratusan SMP dan SMA di hampir semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia dengan mengeluarkan dana ratusan milyar meski peraturan pemerintah yang mengatur pengelolaan seperti itu belum ada. Yang jelas, ini merupakan proyek prestisius karena dibiayai oleh Pemerintah Pusat 50%, Pemerintah Propinsi 30 %, dan Pemerintah Kabupaten/Kota 20%.

Untuk setiap sekolah SBI, Pemerintah Pusat mengeluarkan 300 juta rupiah setiap tahun (total 800 juta dengan dukungan pemda) paling tidak selama 3 tahun dalam masa rintisan tersebut. Lumayan gede dong ! Apakah dana ini digunakan untuk program SBI ? Seharusnya
pemerintah selalu sidak, demi kelancaran program ini. Apakah seluruh sarana benar-benar ada ?
Apakah guru-gurunya sungguhan belajar IT dan bahasa Inggris ? Apakah honor guru yang diberikan benar-benar relevan atau misalkan bayarannya cuma 15 ribu perbulan - karena guru SBI perlu mengurus anak dan istri juga (Ingat lho, guru tuh paling mudah diberi janji,contoh kasus - janjinya guru akan diberi tambahan 1 kali gaji sesudah sertifikasi, ternyata hanya 2 kali dibayar... sesudahnya....gigit jari)


Jumlah siswa di kelas SBI dibatasi antara 24-30 per kelas. Kegiatan belajar mengajarnya menggunakan bilingual. Pada tahun pertama bahasa pengantar yang digunakan 25 persen bahasa Inggris 75 persen bahasa Indonesia. ( Yang ini agak repot, karena ada sekolah-sekolah negri, ketika ada supervisi ,guru mengajar pakai
bahasa Inggris - begitu tidak ada ... ya bahasa Indonesia and daerah lagi....). Pada tahun kedua bahasa pengantarnya masing-masing 50 persen untuk Inggris dan Indonesia. Pada tahun ketiga bahasa pengantar menggunakan 75 persen bahasa Inggris dan 25 persen bahasa Indonesia. Siswa SBI diprioritaskan untuk belajar ilmu eksakta dan teknologi informasi dan komunikasi (ICT/Information and Communication Technology) dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Karenanya, siswa kelas khusus ini diberi fasilitas belajar tambahan berupa komputer dengan sambungan internet.Ini juga sering menimbulkan konflik antar sekolah dan siswa.

Kurikulum SBI adalah SNP + X. SNP adalah Standar Nasional Pendidikan (KTSP) sedangkan X merupakan penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman, melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional umpamanya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, UNESCO. Khusus untuk kurikulum ini, guru-guru dibuat pusing tujuh keliling, karena untuk mencapai kurikulum sedemikian rupa - antara sarana, kemampuan SDM, dan kemampuan siswa-siswanya kadang kala tidak saling mendukung, belum
lagi masalah konflik internal antar sesama guru SBI dengan non SBI, manajerial yang kaku, ....dst, sampai ada guru yang berbicara :".. sudah dua puluh taun gue ngajar, baru sekarang gue dibikin puyeng sepuluh keliling......akibat SBI".


Sebuah sumber pustaka mengatakan, dalam konsep SBI diasumsikan bahwa untuk dapat mengajar hard science dalam pengantar bahasa Inggris maka guru harus memiliki TOEFL> 500. Sedangkan semua orang tahu- tidak ada hubungan antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar hard science dalam bahasa Inggris. So pasti ,Skor TOEFL yang tinggi belum menjamin kefasihan dan kemampuan orang dalam menyampaikan gagasan dalam bahasa Inggris. Banyak orang yang memiliki nilai TOEFL<500> 500 . Tentu saja, menjadikan nilai TOEFL sebagai patokan keberhasilan pengajaran hard science bertaraf internasional boleh jadi merupakan asumsi yang keliru. TOEFL lebih cenderung mengukur kompetensi seseorang, sedangkan yang dibutuhkan guru sekolah bilingual adalah performance- nya, dan performance ini banyak dipengaruhi faktor-faktor non-linguistik. TOEFL bukanlah ukuran kompetensi teaching and learning. Ada sekolah SBI, yang guru-gurunya di test TOEIC, hasilnya rata-rata 200 an, lha bagaimana ini ?

Nah jadi, SBI tuh.. ngga ada hubungannya dengan SBY...







0 komentar:

Posting Komentar